Kutahu mukaku tidak menunjukan lagi diriku masih berusia 27 tahun, bahkan tepatnya belumlah berlalu 26 tahun. Kerap orang terkejut ! ha ! atau sekedar berbicara dalam hati “mukamu boros amat… hehe… ” …
Tapi bagiku, ternyata sudah ga muda lagi ya … Ketika hidupmu bertemu sebuah tantangan, maka kedewasaan akan tumbuh dan menambah guratan di wajahmu, menguatkan otot – otot wajahmu dan menghilangkan sebagian dari ciri khas anak – anakmu …
Hidupku mungkin tak seindah dirimu, saya sering melihat dan bertemu sobat – sobat yang masih menikmati hari bagai anak – anak di ulang tahunnya yang ke 30 …
Namun saya senang karena 27 tahun hidupku ini sudah kujalani penuh makna di dalamnya. Seperti pidatonya Steve Jobs, life is about connecting dots ! …
Titik pertama dalam hidupku …
Saya lahir di keluarga yang berkecukupan, saya ingat ketika lahir, kami sudah memiliki 2 mobil, bahkan lebih dari 3 toko. Karena itu saya mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa diperoleh pada masa itu, serta sudah mengenal komputer sejak kelas 4 SD, dimana jaman 90an, komputer adalah mainan mahal kelas atas di Indonesia …
Saya menikmati hari – hari, bak pangeran, pulang pergi sekolah selalu diantar jemput, saya bahkan tidak mengingat hal buruk yang pernah terjadi dimasa itu.
Titik gravitasi titik kedua
Tuhan berencana lain, sang ayah dipanggil kembali ke sisi-Nya di usianya yang masih muda 40an, tiba – tiba rumah kami kehilangan tonggak utamanya, ibunda tidaklah mengenal dunia bisnis maupun kerja, ibuku sudah dinikahi ayah di usia baru 19 tahun, bahkan beliau tidak menempuh pendidikan formal apapun dalam hidupnya.
Dalam kebingungan itu, ternyata harta kamipun direngut oleh mereka yang tidak bertanggung jawab, mereka yang menyebut dirinya orang – orang terdekat, tak lain hanyalah orang yang juga iri pada kesuksesan almarhum ayahanda…
Saya baru kelas 6 SD, saat itu, ibuku memanggil kami anak – anaknya untuk berkumpul dan mengatakan sesuatu yang tak terlupakan untukku, simply “kita sendirian sekarang, tidak ada lagi harapan untuk meminta pada orang lain, kita mengandalkan diri sendiri mulai detik ini…”
Di hari itu, dunia bagai jatuh, gravitasi menarik semuanya … saya meletakan harga diri, saya meletakan semua kenyamanan, saya juga telah meninggalkan dunia anak-anak momen itu.
Esok paginya, saya ke sekolah berjalan kaki, bahkan uang untuk membeli seragam olahraga pun saya tidak tahu harus minta kemana ( kenapa olahraga aja perlu seragam ? kenapa ga cukup seragam sekolah aja ? … ), saya memakai kaos T-shirt duduk di pinggir lapangan basket, menontoh teman lain berolah raga karena saya tidak diijinkan guru untuk ikutan, berhubungan ga pakai seragam.
Duniaku telah berubah…
Titik maju dalam hidupku
Ketika anak sebayaku, masih sibuk bermain di sekolah, ngapel ke rumah pacar, nonton TV atau main game di rumah. Saya tidak menikmatinya, saya harus bangun dan membantu ibunda untuk memulai hari, mencari nafkah, dan membiayai semua kebutuhan rumah dan sekolah…
Di hari – hari dimana harus belajar ekstra larut untuk mengimbangi kesibukan dalam satu hari, saya hanya selalu mengingatkan diri pada betapa mulianya ibuku, ketika ibuku menyisihkan makanan terbaik untuk kita, beliau selalu diam – diam membawa hanya nasi putih tak berlauk, sebagai makan siangnya…
Hidup bak sinetron, tak terasa berlalu sangat cepat, prestasi dalam belajar membawaku ke titik karir yang melebihi orang lain seusiaku, kecintaanku pada dunia entrepreneurship, juga berbuah melalui berkembangnya semua bisnis peninggalan sang ayah. Bisnis yang nyaris menemui ajalnya, kini semua tumbuh maju.
Dua titik sebelumnya dalam hidupku telah memberikanku gambaran lengkap tentang dunia ini, dari titik yang nyaman, maupun titik yang susah, 2 titik tersebut mendewasakan ku, ku tak lagi terlena oleh kesuksesan sesaat, dan juga tak lagi terhanyut oleh penderitaan sesaat.
Hidup adalah bagaimana kita menjalaninya, setiap hari adalah sebuah hari baru, setiap anda bertemu orang lain, setiap anda mengerjakan sesuatu, semuanya terasa nyaman dan indah bila kita memahami dunia ini dengan pandangan seperti itu.
Tinggal 3 tahun lagi mewujudkan mimpiku, tidak ada lagi malas – malasan, ungkap hati kecilku, kini adalah waktunya untuk menjadi miliarder termuda melebihi mereka yang lain, dan mencetak sebuah hidup yang menginspirasi jutaan orang lain …






