Pendiri FB Ultah ke 28

Mark Zuckerberg turns 28 years old today. He gets a belated present on Friday, when Facebook’s shares will be floated at a value of around $100 billion. Mark’s shares will be worth about $24 billion. Yet most of the media stories last week seem to be about his hoodie… What were other well-known entrepreneurs doing (and wearing) when they were 28 years old?

When Richard Branson was 28 years old, in 1978, he was working with Mike Oldfield (remember Tubular Bells?) and the Sex Pistols. He had started Virgin Records, but it was still another 6 years before he launched Virgin Atlantic, and another 14 years before he turned success into cash with the sale of the Virgin label to EMI (For £500 million). That’s him next to Mike Oldfield, in the black and white photo with the sparkly black jumper.

Bill Gates reached 28 years old in 1983. That’s just 2 years after launching Microsoft in Washington with the IBM contract for MS-DOS. It was the very early days, still 2 years before the launch of Windows, and 3 years before Microsoft had its IPO (It was worth $780 million when it listed, and Gates was worth $350 million at that point. That means Microsoft was worth less than 1% of Facebook’s market value at time of listing). At 28, Gates hadn’t hit millionaire status, and yes, that’s him striking a pose on the PC in his white jumper and grey slacks in 1983…

Steve Jobs also reached 28 years old in 1983. It was the year he launched the Macintosh. Apple had its IPO in 1980, and was worth $1.7 billion when it listed. Steve was worth $250 million at 28, but within 2 years he was thrown out of Apple, and he ended up spending most of his first fortune over the next 10 years on his new start-ups, NeXT and Pixar. It was 14 years before he returned to Apple at the age of 42. As you can see from the photo of Steve in his zen pose with his new Macintosh, he had already adopted his uniform of black turtleneck and blue jeans at 28.

Mark reaches 28 years old with 100 times the wealth his predecessors had at his age. It’s a sign of the times – from the multiplier effect of a virtual world that’s grown to 2 billion online, the money in the markets, and the decline of the dollar. Yet he reaches 28 with the same number of years as the others to refine his fashion statement. So I’d say wearing a hoodie to Wall Street is an improvement on a black sparkly jumper. Or striking a pose ala young Bill Gates on a PC…

Holy cow, the dude’s only 28 years old!

Given that the other three still had all their greatest achievements ahead of them at 28, it’s going to be fun to see what Mark gets up to in the years ahead. And as we’re all here on Facebook, we’ll all be part of the ride. Happy Birthday, Mark!

Idea = Habits = Repeated Actions

Di dunia ini ada beberapa jenis manusia spt ini : 

1. setiap hari cerita ke orang lain betapa pintarnya dirinya, dan ide2 cermelang dirinya
2. setiap hari menganggap dirinya sudah cukup kaya, dan tidak perlu bekerja lebih keras
3. setiap hari berpikir dirinya adalah orang suci, ga kaya tapi pasti masuk surga
4. setiap hari bercerita ttg usaha2 yg akan dilakukannya untuk mencapai kesuksesan…
5. setiap hari baca buku motivasi, nonton video motivasi dan borong semua tiket seminar .

Tetapi ironisnya, ke 5 orang tsb tidak pernah sukses, karena mereka duduk, berpikir, berbicara, but NEVER ACTION ! dan untuk berhasil positive action harus dilakukan berulang – ulang hingga menjadi habits atau kebiasaan …

Alkisah ada seorang pemuda intelek, dia datang dari ibukota, lulusan terbaik ditempatnya, ketika tiba di sebuah desa nelayan, dia melihat bagaimana para nelayan sedang mempersiapkan jala untuk melaut malam hari itu ..

Dalam hati kecilnya dia pun berpikir alangkah bodohnya orang2 tsb, bila ingin mendapatkan ikan yg banyak mereka seharusnya bekerja sama, menggabungkan beberapa perahu2 nelayan kecil, menggunakan jala yg lebih besar … dan saling berkoordinasi …

Maka dia pun menemui pimpinan nelayan disana, dia menjelaskan ide2 briliannya, dia menceritakan bagaimana Jepang melaut dengan kapal2 berteknologi dan menangkap ikan dalan jumlah yg berton – ton banyaknya …

Orang desa pun percaya dengan dirinya … dan mereka pun menggabungkan kapal2 tersebut dan membuat jala yang lebih besar … singkat cerita merekapun pergi melaut malam berikutnya …

Siapa sangka, ketika datang ombak besar, kapal besar justru menimbulkan hambatan yg lebih besar dan kapalpun rusak dan tenggelam … dengan sigapnya para nelayan langsung menceburkan diri ke air dan berenang ke permukaan …

Setelah tak berapa lama mereka semua selamat, mereka mencari pemuda intelek tsb dan tidak bisa menemukannya … ternyata dia hanyut krn tidak bisa berenang …

Yang kita pelajari dari kisah sederhana ini : 
Banyak orang suka mengajari orang lain, namun lupa kekurangan dirinya ( ga bisa berenang ). Akibatnya seluruh kapal bisa tenggelam ( perusahaan bisa hancur ), karena dipimpin dengan sembrono.

Mengubah Kegagalan menjadi Kesuksesan

Tahukah kamu, dalam huruf mandarin “Wei Chi” ( Crisis ) terdiri atas 2 kata yaitu “Wei = bahaya” dan “Chi = kesempatan”, sehingga kearifan cina kuno mengajarkan di setiap krisis justru terdapat kesempatan.

Ada banyak bukti mengenai hal itu di jaman kuno, di setiap gagal panen, rakyat sengsara, justru muncul tokoh – tokoh baru yang tadinya tidak dikenal, dan mendapatkan posisi2 penting di kerajaan.

Kesempatan itu muncul, ketika krisis itu ada.

Kisah Levi Strauss ( Pendiri dari celana jeans – Levi ) 

Pada tahun 1850an di jaman amerika masih dilanda demam emas, terbuka tambah emas di sepanjang klondike, alaska. Hampir 12,5 juta ton emas ditambang pada masa itu. Terjadi migrasi besar – besaran ke wilayah alaska terpencil tersebut …

Tidak seperti yang lain, Levi, sang entrepreneur creative, datang ke klondike melihat peluang bisnis tenda, dia berpikir bila semua orang datang ke wilayah tambang ini, pasti bisnis tenda akan laris manis …

Maka dengan menghabiskan seluruh hartanya, beliau datang dengan membawa bahan tenda experimental, setelah menawarkan kesana dan kemari, ternyata tidak juga mendapatkan tanggapan positif. Alasannya kain tenda tersebut terlalu tipis, tidak sesuai digunakan sebagai tenda …

Di tengah kegelisahan itulah, Levi, memutuskan untuk membuat celana dari seluruh kain tenda tersebut … alhasil sekrang seluruh dunia mengenal dan menjadi celana favorit – yaitu celana jeans, bahannya yg lebih kuat dari kain pakaian umumnya, dipakai oleh para penambang emas …

itulah contoh kisah sukses, dengan membalikan segala kegagalan dan berpikir KREATIF …

Kapan saya naik jabatan (gaji), bos ?

As maxwell explain it in plain english … 5 Level of leadership, adalah 5 tahap jenjang kepemimpinan … saya berharap seluruh team dapat memahami 5 level ini, sehingga anda secara continue akan terus mengembangkan diri ke arah yang benar …

Level 1. Position
seseorang mendapatkan HAK untuk memimpin karena diberikan jabatan.  Untuk mendapatkan jabatan seseorang harus memiliki pengalaman + keahlian yang melebihi orang lain. Seperti seorang tukang yang sangat cekatan dan lihai, diangkat menjadi mandor di proyek …

Orang mengikutimu karena … kamu ditunjuk jadi bos mereka / manajer mereka

Level 2. Permission
Setelah jabatan, anda perlu establish relationship / hubungan yang baik antar karyawan, agar mereka bekerja beralasankan trust bukan lagi jabatan semata … orang mengikutimu karena hubungan baik dirimu.

Reason to change : karena tidak semua anggota team puas / happy dipimpin anda karena jabatan saja, mereka membutuhkan sesuatu yg lebih. Terlebih saat yg dipimpin lebih pintar da yg memimpin.

Kelemahan : Pemimpin menjadi terlihat lemah dan tidak tegas, kesannya terlalu baik. Dan terlebih banyak orang berpikir bisa memimpin hanya bermodal baik-baikin/ nyenengin orang lain, tetapi keahlian dirinya nol besar.

Level 3. Production
Setelah anda memimpin dengan jabatan + relationship yang baik, saatnya anda membuktikan anda pemimpin yg bisa membawa team anda ke kehidupan yg lebih baik, alias produktif… orang mengikutimu karena keahlianmu untuk membantu mereka

Reason to change : Team yg solid, happy, dan senantiasa kompak tidaklah cukup kalau perusahaan tidak maju dan produktif.

Kelemahan : Pemimpin menjadi ahli solusi … dia bekerja dengan memberikan solusi terus, akibatnya anggota team tidak bertumbuh jadi pemimpin.

Level 4. People Development
Kini anda mengajarkan orang lain untuk menjadi pemimpin, atau sekedar menjadi ahli solusi untuk rekan yg lain. Orang lain dipimpin karena mereka merasa terbantu dan maju mengikutimu

Reason to change : Pemimpin menjadi ujung tombak, terlalu melelahkan dan menghambat untuk yg lain.

Kelemahan : - ( some say lack of actualization )

Level 5. Personhood
Anda dihargai dan diikuti karena diri anda sesungguhnya, 100% leader. Anda bukan hanya memimpin tetapi anda menciptakan generasi baru pemimpin …

Reason to change : -

Kelemahan : -

 

Temukan Solusinya, berhentilah berpolitik …

Kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang pintar tetapi kita adalah bangsa yang sangat menyukai politik… sungguh pelupa bangsa ini, apa kita lupa tahun 60an kita sudah buat mobil nasional, tahun 80an kita sudah memulai perakitan pesawat dalam negri, dan 90an bahkan kita punya pabrik pesawat yang berhasil dijual ke negara lain …

Lebih ironi lagi, sudah sejak 40 tahun yang lalu, ratusan anak – anak terbaik negri ini sudah berprestasi di berbagai ilmu sains, ilmu robotika dan ilmu lainnya, apakah ada yang mengingat mereka ? hanya berlinang air mata sambil menunjukan surat dengan lambang negara Pancasila, dan tanda tangan bapak presiden pertama : Soekarno di bawahnya …

Tetapi negri ini sesungguhnya melupakan mereka, para ilmuwan Indonesia, yg kini berkarier di luar negri …

Lantas apa hebohnya mobil SMK ? apa hebohnya anak – anak negri ini menjadi beberapa juara internasional sains ? … itu bukanlah cerita baru, itu cerita basi

Kenapa ? kita sudah sering berprestasi, kita sudah sering berhasil maju di berbagai kancah Internasional, tetapi kita tidak pernah benar – benar bisa mengelolanya, kita suka ketenaran, kita suka heboh, kita dipenuhi rasa haus akan kekuasaan, rasa haus akan pujian orang lain …

Pemuda – pemuda cerdas tsb dengan cepat dipengaruhi para lalat – lalat politik, menjadi korup, dan matilah sudah prestasi …

Musyawarah sungguh adalah isi sila ke-4 negri ini … namun bila para pemimpin negri ini, hanya sibuk bermusyawarah setiap hari, sibuk berkoalisi menjaga kursi – kursi kekuasaan, bahkan sibuk bersolek utnuk menjaga wibawa dan citra pribadi dan partai … lantas apa jadinya negri ini ?

Masih fresh di ingatanku, tidak perlu jauh – jauh, pemilu gubernur DKI yang terakhir … diwarnai dengan janji yang tidak jauh berbeda dengan yang ditawarkan di pemilu kali ini… yakni mengurai kemacetan, menuntaskan masalah banjir, sekolah gratis, kesehatan gratis …

Tahun berganti tahun, lantas apa perbaikannya ? apa yang berubah ? tidak ada … bila pertanyaan ini anda tanyakan ke mereka, para lalat – lalat politik, mereka akan mulai berpidato panjang lebar, menyodorkan bukti ini dan itu, mengatakan ini dan itu …

Saya suka apa yang dikatakan pak Dahlan beberapa hari lalu, “pidato itu tidak penting, yang penting kerja !”.

Iya negri yang besar dan kaya ini, bak sepotong daging segar yang digerogoti oleh lalat – lalat politik, mereka yang suka tampil di layar kaca, berkomentar, menjabarkan ini dan itu, tetapi koq ya tidak ada perbaikan dan perubahan ya …

Sebenarnya sederhana saja rakyat Indonesia untuk mengerti …

mungkinkah ? … kita terlalu banyak berpolitik, terlalu banyak berdiskusi, terlalu banyak permainan dalam kekuasaan, terlalu banyak berpura- pura…

Solusi biasa tidak lagi ampuh untuk negri ini, saatnya semua rakyat mengambil bagian dari    Solusi untuk Indonesia.

Tulisan ini saya tulis, ketika pagi ini depan rumahku dipenuhi genangan air selutut orang dewasa … banjir lagi banjir lagi karena hujan di Jakarta semalaman … kita menuntaskan masalah kita sendiri, kita membangun tanggul, kita memperbaiki jalan, kita bahkan membayar dan menyewa anggota TNI untuk menjaga keamanan lingkungan …

Lantas kemana uang pajakku ? jawablah pertanyaan itu dengan nuranimu …

Serang LCD Advertising Network

Hari sabtu, 28 April ’12, jam menunjukan jam 3 pagi, suasana mall gelap gulita dengan tampak team Biind Media masih terus berjuang menaikan TV – TV LCD kita ke ceiling mall of serang …

Setelah hampir 12 jam bekerja di lokasi, akhirnya team bisa pulang paginya jam 7 ke Jakarta dan menyelesaikan tugas dengan baik.

inilah LCD TV Network – Mall of Serang, 4 LCD TV dengan sistem online player.

You can ! not You will …

Tahun lalu saya sempat menghadiri seminar Tony Robbin, world no.1 peak performance coach, mengenai “bagaimana kita mencapai puncak kesuksesan” …

Pertanyaan serupa mungkin sering kita temui pada seminar2 pak TDW, yakni juga murid dari Tony Robbin … kira2 inilah pertanyaannya dan cobalah jawab pertanyaannya berikut :

1. Apakah anda ingin sukses ? …. 
2. Apakah anda benar – benar, dan sangat mauu sekali untuk sukses ? …
3. Apakah anda benar – benar, sangat mau dan bahkan siap untuk melakukan apapun, mati – matian, tempur siang malam, ga akan mengeluh, ga akan malas, terus – menerus dan terus menerus biar itu 100 tahun pun … tetap akan berusaha untuk sukses ? ….

Alangkah mengejutkan, pada saat pertanyaan ketiga dilontarkan … 90% orang akan mundur dengan berbagai alasan … seperti “buat apa punya harta banyak kalau tidak ada hati nurani”, “buat apa sukses, kalau keluarga berantakan”, “buat apa sukses, dunia bukan segalanya …”

3 pertanyaan diatas dikenal dengan 3 tingkat komitmen manusia … 

Sebenarnya pertanyaan tersebut memiliki makna yg sama, yakni apakah anda ingin sukses ? …

Saat ditanyakan pada level berikutnya, ternyata manusia mudah menyerah, dan gampang menciptakan pembenaran pada kemalasan dan ketidakmampuan dirinya.

Sehingga tentu dengan mudah, kita bisa menyimpulkan orang2 yang mundur pada pertanyaan kedua, tidak akan berhasil, dan yg mundur pada pertanyaan tiga juga tidak akan berhasil …

Loh, koq yakin betul ? … 

Tentu saja, ini baru pertanyaan aja dia sudah mundur, apalagi pada saat berjuang mencapai kesuksesan ? orang yg mundur pada pertanyaan ke 2 dan 3 akan mundur dan menyerah dengan mudah koq … dan menciptakan pembenaran bahwa dia tidak perlu sukses untuk bahagia.

Tony Robbin juga sering share bahwa “orang sukses bisa membahagiakan lebih banyak orang, dibandingkan orang yg gagal dalam hidupnya”… saya sangat menyukai quote tersebut.

Perbedaan antara kemauan yg 100% dengan yg hanya 50% atau 30% sebenarnya berbeda sangatlah jauh dalam hasilnya …

Begitulah Tony Robbin, menutup seminar dengan berkata …

You Can ! not You will ! …  ( kamu bisa dan berhak sukses, bukan kamu mau sukses )

Being Boss is Lonely Job

I always wonder why people are working so hard and dream to become a boss … Maybe lot of people think boss is somebody seating without working with big pocket of money…

Being boss actually is holding big responsibility for every mistake taken by our team, and for more to add, being boss mean you do something or a lot of thing that keep unseen and un spoken of …

even people are knowing you do something brilliant, usually your team will not giving out anything to you even a simple admiration … because people use to think, hmm… he is the boss, what he need anymore ? he own everything …

But when you do something wrong, all the talking will come at once … because people will think, hmm he is the boss, he should take all the responsibility …

Being boss actually is much more the same with all the people, we need support and admiration … because human need to be actualize himself …

That’s why lot of leader at the end become a public speaker / trainer or doing something good at the charity … this is the fact that we must know …

For all this year become no.1 at the top, doesnt mean we dont have any problem …

But for real, my only power always come from 2 sources …

1. my mother, that keep me inspired.
2. my love, that keep me awake and fight.

So if people are said : “dibalik setiap pria sukses pasti ada wanita hebat” …

I truly believe on it …

So people before you have everything, you need to find the one first …